Study In Ireland
(Erasmus Mobility Program)
Bersama : Nalaputi Basoeki
Para Pencari Mimpi kali ini menghadirkan seorang gadis muda sebagai narasumber yang mana kak Nala sedang memasuki semester 3 di Lund University Sweden. Mungkin cukup berbeda dengan tema seminar kali ini, karena kak Nala sendiri mendapatkan beasiswa yang mewajibkan kuliah minimal pada 2(dua) negara. Beasiswa tersebut ialah Erasmus Mundus Joint Master Degree (EMJMD). Jadi program yang di tawarkan merupakan mobility master program yang dibiayai oleh EU (European Union). Beasiswa ini sifatnya fully funded termasuk tuition fee, monthly allowance, insurance, travel fee. Beasiswa ini juga diterima hingga penerima beasiswa menyelesaikani programnya. Tiap program terdiri dari konsorsium beberapa negara Eropa, yang mana terdapat perbedaan setiap programnya.
Syarat umum beasiswa ini sama seperti beasiswa lainnya seperti IELTS, motivation letter, recommendation letter, dll. Serta terdapat persyaratan yang spesifik setiap programnya.
Lebih jelasnya lagi, Erasmus merupakan nama beasiswa secara generalnya. Sedangkan program master yang diambil oleh kak Nala berada dibawah framework mobility Erasmus dengan nama EMJMD tersebut.
Pembukaan pendaftaran beasiswa ini di mulai pada akhir tahun sekitar Oktober-Desember, tergantung beasiswanya. Pengalaman kak Nala sendiri pernah mendaftar beasiswa AAS (Australia Awards Scholarship) yg periode daftarnya Agustus kalo nggak salah. Selain itu ada juga Chevening sekitar Oktober, EMJMD yang mana terdapat perbedaan periode daftar sesuai dengan programnya, biasanya Oktober-Desember itu), SIS (Swedish Institute Scholarship) sekitar akhir Januari, dan StuNed sekitar Februari. Untuk berbagai program EMJMD lebih lengkapnya bisa liat di katalog beasiswa Erasmus https://eacea.ec.europa.eu/erasmus-plus/library/scholarships-catalogue_en
Program yang ditawarkan oleh Erasmus itu sangat spesifik programnya. Dan kelebihan dari beasiswa Erasmus juga tidak hanya beasiswa buat S2 tetapi juga ada program exchange buat S1 dan juga program S3. https://ec.europa.eu/programmes/horizon2020/en/h2020-section/marie-sklodowska-curie-action
Program yang diambil oleh Kaka Nala ialah FIPDes (Food Innovation and Product Design). Konsorsium FIPDes terdiri dari 4 negara, yaitu Perancis, Irlandia, Swedia, dan Italia. Jadi untuk semester 1, kak Nala menjalankan kuliahnya di AgroParisTech, Paris, lalu lanjut di Technological University of Dublin, Dublin untuk semester 2.
![]() |
| https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dublin_Institute_of_Technology |
Kelebihan dari program mobilitas ini banyak sekali yaitu bisa merasakan kuliah di beberapa negara eropa yang pastinya akan memiliki perbedaan mulai dari system pendidikannya, kelasnya, sampai kehidupan sehari-harinya. Selain itu, akan memiliki temen dari berbagai negara yang bisa saling mendukung dan saling belajar juga. Dan untuk program EMJMD ini, ada ketentuan maksimal 2 orang per negara dan ada kuota untuk berbagai belahan dunia. Kak Nala merupakan satu-satunya mahasiswa dari Indonesia. Untuk total mahasiswa FIPDes ada 23 orang yang berasal dari 19 negara. Jadi memang sangat selektif dan kompetitif untu program ini. Program Erasmus juga sudah cukup terkenal didunia internasional dan punya banyak partner university and partner company. Jadi memiliki kemudahan jika berminat untuk melanjutkan kerja diluar negeri ataupun magang di organisasi-organisasi internasional. Contohnya untuk program kak Nala sendiri di semester 4 nanti didedikasikan buat magang, dan kak Nala bebas memilih company atau university atau organization manapun didunia.
Alasan kak Nala mengambil jurusan ini ialah selaras dengan S1 yang diambilnya dulu yaitu jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Kak Nala juga lebih tertarik ke ilmu aplikatif dan FIPDes itu yang mana sesuai dengan yang diminati oleh kak Nala. Untuk program erasmus sendiri merupakan program generally multidisciplinary, jadi bisa dari background apapun. Hal terpenting yaitu harus bisa menjelaskan gimana past experience kalian relates ke program yg diambil ini dan jelas tujuannya setelah lulus mau apa. Banyak teman-teman dari kak Nala yang backgroundnya chemical engineering, industrial engineering, microbiology, dll.
Pengalaman dari kak Nala
“Wah susah deskripsiinnya haha, yang jelas seru banget banget. Super challenging tapi juga sangat menyenangkan! Aku bener-bener dituntut untuk keluar dari zona nyaman, ketemu lingkungan dan orang2 baru, dan juga pastinya bisa travelling 😉. Untuk kehidupan nomaden itu juga seru haha, lebih tepatnya seru dan mendebarkan. Harus selalu berurusan sama embassy karna urusan visa, nggakbisa punya barang banyak karna harus pindah2 tiap semester, udah biasa ditanya-tanya sama petugas imigrasi, dan juga jadi terbiasa sama kehidupan yang selalu berubah. Intinya, aku belajar banyak banget nggak cuma soal hal akademis tapi juga social life in general. terus salah satu tantangan yang aku hadapi di social life dengan kehidupan nomaden ini adalah bahasa. jadi di Eropa itu, english is not their mother tongue (kecuali Irlandia). Jadi aku harus belajar bahasa baru setiap pindah negara. Misal pas semester 1 di Paris dulu, aku belajar French dan emang harus pake French buat survive disana, jadi menantang banget. nah pas ke Irlandia, nggak gitu ada masalah karena mereka semua ngomongnya english, walaupun dengan irish accent yang susah2 gampang buat dimengerti haha. eh begitu udah mulai terbiasa dengan bahasa dan ritme kehidupannya, aku harus udah pindah lagi ke negara selanjutnya😅 jadi sekarang aku lagi belajar bahasa swedia buat persiapan next semester. walaupun hampir semua orang disana bisa bahasa inggris, tp sesimpel belanja di supermarket, semua labelnya bahasa swedia. jadi at least, aku harus bisa basic languagenya”
Tips dan Trik dari kak Nala. Kak Nala selalu berusaha untuk memenuhi semua requirement pendaftaran seserius mungkin. Kemudian persiapannya harus benar-benar matang untuk semua dokumennya, termasuk persiapan IELTS karena ada minimal score untuk IELTS (overall 6.5), motivation letter, dan berbagai dokumen lainnya. Jangan sampai terlewat deadlinenya. Terakhir dan terpenting, tetap berdoa dan yakin dengan kemampuan diri sendiri! 😉
Sesi Tanya Jawab :
1. Lina zulaikah_SOLO_Telkom University _ saya hendak bertanya, menurut kakak apa saja aspek yang dapat menjadi nilai lebih buat pendaftar beasiswa dimata penyelenggara beasiswa? Dalam essay, seleksi administrasi, atau interview?. Dan berapa banyak peluang beasiswa (S2) dalam tiap tahun penyelenggaraan beasiswa erasmus?
Kak Nala: semua punya nilainya masing-masing sih ya. kalo dari pengamatan aku dan temen2 programku, banyak dari kita yg terpilih karena pernah punya international experience sebelumnya. misalnya, aku dulu pernah ikut short stay program gitu di Jepang pas S1 dan temenku orang Italy pernah exchange di Singapore 1 semester, terus juga pengalaman kerja diperhitungkan. aku dulu sempet kerja setahun di bagian R&D yang super relatable sama programku, jadi mereka juga memperhitungkan hal itu. sedikit sih yang keterima di programku sebagai fresh graduate gitu, aku termasuk yg paling muda diangkatanku ini dan interview itu biasanya buat orang-orang yg diatas kertas menjanjikan, tapi pihak pemberi beasiswa ingin membuktikan kalo candidates ini emang memenuhi persyaratan dan keinginan mereka. jadi menurut aku pribadi, semua tahapan penting dan nggak ada yg lebih penting dibanding satu sama lain. untuk kuota tiap tahun, aku kurang tau sih ya. yang jelas mereka seleksinya itu bener-bener merit-based, jadi siapa yg qualified, dia yg terpilih. dan nggak tiap tahun juga ada orang indonesia, karena bisa aja orang dari negara lain lebih qualified .
2. Dania_bogor_UPN
sebelum mendaftar erasmus apa kak nala memiliki mentor? Dan kesulitan-kesulitan yg dilalui sebelum mendapat beasiswa erasmus menurut kak Nala apa saja?
Kak Nala: aku nggak punya mentor😅
jadi semuanya aku urusin sendiri, tapi aku banyak belajar dari blog orang2 yang udah kuliah di europe. Kesulitannya time management haha. kebetulan dulu aku apply2 sambil kerja. jadi aku bener2 harus bagi waktu antara kerja dan apply master. aku urusin aplikasi beasiswa setelah pulang kantor yang pastinya udah capek dan gak terlalu fokus wkwk. tapi semua tetep balik ke niat yaaa, kalo udah niat pasti ada jalannya juga. terus kadang antara satu beasiswa dengan yg lain deadlinenya mepet2 gitu, jadi aku harus bagi fokus juga padahal tiap beasiswa kan persyaratannya beda2 yaa. jadi harus bener2 prepare dan buat timeline daftar beasiswa plus deadline2nya biar nggak kelewat
3. Zahra_pacitan
Kak, diantara negara tsb bahasa mana yg paling sulit? Apakah masyarakat dinegara2 tsb ramah kak? dinegara2 tempat kakak studi susah gak cari makanan halal?
Kak Nala: jelas French yg paling sulit haha, tapi berhubung aku suka belajar French, jadi enjoy2 aja. di Paris orang2nya nggak terlalu ramah, karena mungkin emang tipikal orang2 Prancis yaa dan juga itu kota gede gitu, jadi wajar orang2nya lebih nggak ramah. tapi di Dublin, orangnya supeeerrr ramah dan warm banget. sejenis lah sama orang2 indo ramahnya. makanan halal banyak bgt di Paris, di Dublin lebih susah tp ttp ada toko daging halal. jadi emang lebih enak kalo masak sendiri :)
4. Muhamad Fahmi - Cianjur - IKIP Siliwangi Bandung - pendidikan matematika dan sains
assalamualaikum kak, apakah jenis universitas baik swasta atau negeri serta akreditasi mempengaruhi?
apabila sudah berkeluarga apa boleh keluarganya dibawa kesana juga?
Kak Nala: untuk jenis universitas, hmm, menurutku mempengaruhi tapi bukan jaminan. maksudnya, walaupun univnya nggak terlalu terkenal di dunia internasional, tp kalo kamu punya pengalaman internasional atau berbagai pengalaman yang related sm programnya, kesempatan pasti selalu ada. boleh-boleh aja, tp pihak beasiswa nggak nanggung keluarga yg dibawa. Jadi gimana pinter2 ngatur alokasi dana yg dikasih oleh pihak pemberi beasiswa.
5. Syalia_Bekasi_Sman 5 tamsel
Kak Nala di program Erasmus itu untuk universitas nya kita yang memilih atau ditentukan oleh pihak program itu Kak?
Kak Nala: ditentukan oleh programnyaa
Kesimpulan dari kak Nala
“aku banyak belajar banget dari pengalamanku kuliah di Eropa dengan beasiswa ini. Aku inget banget pas masih jadi scholarship hunter dan berjuang banget buat sampe dititik ini, dan kadang itu jadi penyemangat sendiri kalo aku lagi capek kuliah. Intinya, lanjut master di luar negeri itu adalah life-changing decision yang harus disiapin mateng-mateng dan seserius mungkin. Karena kalo udah disini, there is no turning back again. Tapi aku bener-bener saranin temen-temen buat terus mencoba dan jangan mudah menyerah! Bahkan aku udah menerima penolakan beasiswa beberapa kali dan tetep aja terus apply wkwk. Pada akhirnya pasti ada jalannya 😉”


Comments
Post a Comment